Cahaya Hati [Zultanias Barakabungin]

Zulatanias Barakabungin

  • PERBANYAK BERZIKIR


  • Enrekang Taggala’ Masehi

    November 2011
    S S R K J S M
        Jan »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • Dapatkan 24 juta/minggu.

    Nuur Indramaulana Ungu

    Peluang usaha nyata, murah, mudah dan hasilnya MEWAH.

  • ARSIP

  • KATEGORI

  • Nuur Indramaulana Ungu

  • Ini Benaran Bisnis Online

    By Zultanias Barakabungin: Bagaimana ANDA Bisa Mendapatkan Puluhan Juta Rupiah Dengan Cepat & Mudah!
  • Lihat Poto Profil Disini

Menjadi Benalu Apa Tidak Malu?

Posted by Nuur Indramaulana Ungu pada 20 November 2011


Menjadi Benalu Apa Tidak Malu?

437Share

 

Menyenangkan ketika kita melihat orang yang dibantu tersenyum bahagia dan mengucapkan terima kasih. Akhirnya yang memberi bantuan pun ikut tersenyum dan secara lahir juga terlihat ikhlas. Nah, bagaimana kalau si peminta bantuan ini esoknya meminta bantuan lagi padanya, kemudian esoknya lagi, dan esoknya lagi…

 

Kita mungkin sering melihat teman, saudara atau tetangga kita meminta bantuan kepada orang lain, atau bahkan ke diri kita sendiri. Seperti ada yang kurang ketika bantuan itu tidak kunjung datang atau tidak ada yang memenuhi. Akhirnya kita yang tidak dimintai bantuan sedikit-sedikit mencoba membantu. Apalagi jika ingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

“Barang siapa menghilangkan satu kesulitan dari orang muslim maka Allah mebalasnya dengan menghilangkan daripadanya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan yang ada pada hari kiamat” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Namun, bagaimanakah jadinya bila orang tersebut terus menerus meminta bantuan kepada kita, atau kepada orang-orang sekitarnya. Alhasil, setiap ia memanggil seseorang, sudah dapat diperkirakan ia akan merepotkan orang tersebut kalau tidak bisa dibilang menyusahkan.

 

Seorang muslim yang beriman disyari’atkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Namun, tidak berarti setiap saat kita boleh terus menerus meminta bantuan kepada orang lain. Karena di samping diperintahkan untuk saling tolong menolong, kita juga diperintahkan untuk menjadi muslim yang kuat. Kita dapat melihat contoh salah satu sahabat dari kalangan muhajirin yaitu Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu. Ketika baru saja hijrah ke Madinah, ia tidak membawa harta kekayaannya yang ada di Mekah. Ia yang dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Sa’ad bin Ar Rabi’ Al-Anshari radhiallahu ‘anhu ditawari begitu banyak kenikmatan berupa istri, harta dan kebun. Tetapi ia menolak semua itu dan memilih untuk berusaha sendiri dan mengembangkan usahanya sendiri lewat jual beli di pasar. Allah Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. Sepulang dari pasar itu, ia sudah dapat membawa pulang sebiji emas.

 

Yang perlu diingat lagi adalah, ketika kita mendapat kebaikan dari orang lain (dan mendapat bantuan itu sama saja dengan mendapat kebaikan dari orang lain), maka kita juga diperintahkan untuk membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan yang serupa atau yang lebih baik lagi. Kalaupun tidak dapat membalasnya, maka kita dapat mendoakan kebaikan untuk orang tersebut. Ada dua syarat utama dalam Islam ketika kita meminta tolong kepada makhluk (manusia).

 

Yang dimintai bantuan memiliki kemampuan. Kemampuan di sini adalah kemampuan untuk memenuhi permintaan tersebut. Karena sesungguhnya manusia adalah makhluk yang sangat lemah dan memiliki banyak kekurangan. Hanya Allah-lah yang Maha Kuasa untuk mengabulkan semua permintaan hamba-Nya.

Hadir atau berstatus hadir. Maksudnya di sini adalah orang tersebut ada di hadapan kita sehingga dapat melaksanakannya, atau bisa juga ketika kita menggunakan sarana komunikasi yang mengatasi masalah jarak. Nah, lain lagi kalau kita meminta tolong kepada yang sudah meninggal. Misalnya dengan mengatakan, “Mbah, atau Bu, saya mau ujian nasional besok, doain saya ya Bu, Mbah”. Padahal keduanya telah meninggal atau berada di tempat jauh, sementara tidak ada komunikasi langsung dengan mereka. Dengan kalimat ini, kita sudah melakukan dosa yang sangat besar, yang dapat mengeluarkan kita dari Islam. karena dosa itu statusnya berbuat kesyirikan kepada Allah Azza wa Jalla.

 

Di samping syarat utama tadi, ada beberapa hal yang perlu diingat dan diperhatikan ketika kita meminta bantuan kepada orang lain untuk menjaga hubungan baik kita dengan saudara muslim lainnya.

 

Waktu.

 

Apakah kita akan menyita banyak waktunya atau tidak. Kalau ya, akan lebih baik kita berusaha sendiri, atau kalau perlu membalas dengan kebaikan yang lebih besar lagi. Karena waktu merupakan harta yang tidak dapat dikembalikan kepada seseorang. Dan setiap orang diperintahkan untuk memanfaatkan waktu yang dimilikinya dengan sebaik-baiknya.

 

Kondisi

 

Bagaimana keadaan orang yang dimintai bantuan. Apakah lebih sibuk dari kita. Kalau seperti ini keadaannya, maka kita perlu mencari orang lain atau lebih baik lagi berusaha sendiri. Apalagi jika ternyata orang tersebut sedang sakit atau terkena musibah. Maka menjadi giliran kita untuk memberi bantuan padanya.

 

Kontinuitas

 

Meminta bantuan sekali-kali memang masih membuat orang yang dimintai bantuan tersenyum atau melakukannya dengan senang hati. Akan tetapi kalau berlangsung terus menerus, setiap hari, atau bahkan menjadi rutinitas si pemberi bantuan, ini mesti dihindari. Hal ini bisa menyebabkan sesuatu yang menjadi ladang kebaikan bagi si pemberi bantuan, malah menjadi sebuah kedzoliman untuknya. Sudah dimintai bantuan, didzolimi pula. Duh, siapa yang senang kalau keadaannya seperti ini. Padahal seorang muslim dilarang untuk mendzolimi saudaranya.

 

Empati

 

Inilah yang perlu diperbesar dan dilatih dari diri kita. Ketika kita memperbesar rasa empati kita, maka kita dapat memperkirakan, bagaimana jika kita dalam posisi yang dimintai bantuan. Kalau kemudian kamu membela diri, “Ah, kalau aku diminta, kalau aku bisa ya aku lakuin kok!”. Nah, kalimat seperti ini sebenarnya telah menunjukkan rasa empati yang kurang. Masalahnya, kalau kita yang terus meminta tolong, bagaimana kita bisa berempati.

 

“Tolong menolong” merupakan kata yang menunjukkan adanya dua orang yang melakukan pekerjaan “saling” menolong. Jangan menjadikan ayat atau hadits tentang berbuat kebaikan sebagai pembenaran bagi kita untuk terus menerus membuat beban bagi orang lain dengan mengatakan, “Kamu kan jadi tambah pahala!”. Bagaimana jadinya kalau tidak ada yang ingin dekat-dekat dengan kita karena takut akan terus menerus dimintai tolong. Kalau sudah begitu, siapa juga yang rugi.

 

Wallahu A’lam.

 

***

Artikel muslimah.or.id

Penulis: Ummu Ziyad Fransiska Mustikawati

Muroja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

 

Maraji :

 

Syaikh Muhammad At-Tamimi, Kasyfu Syubhat, http://www.perpustakaan-islam.com

Imam Nawawi, Riyadusholihin, Takhrij Syaikh Nashiruddin Al-Albani, Duta Ilmu : Surabaya

Syaikh Nashiruddin Al-Albani, Adab Zifaf, Media Hidayah : Yogyakarta

 

437Share

 

Artikel Terkait:

 

Tiga Kriteria Manusia yang Tidak Layak Menjadi Teladan

Tidak Boleh Mencantumkan Tanda Kehadiran Bagi yang Absen

Hiasi Dirimu dengan Malu

Muslimah Cantik, Bermahkota Rasa Malu

Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga

Maaf Suamiku… Aku Tidak Akan Menaatimu!!

 

18 komentar • Kirim ke teman • 8,603

Artikel sebelumnya: Presentasi Mediu Pekanbaru

Artikel selanjutnya: Talak Bagian 1 (Hukum Talak)

 

Kirim Komentar

 

Mohon memberikan komentar yang sesuai dengan topik artikel. Komentar Anda akan kami review dahulu sebelum ditampilkan.

 

Name (wajib)

 

Email (wajib)

 

Website (optional)

 

Komentar:

 

Notify me of follow up comments via e-mail

18 Komentar

 

mety • Mar 3, 2011, 8:30

 

Subhanallah…tulisan ini sederhana tapi bisa menjadi bahan muhasabah bagi kita manusia yang lemah…

Jazakillah…

Numpang copy ya mbk/mas…semoga dengan tulisan ini bisa menggugah hati2 kita yg sedang haus akan nasehat..

artie • Mar 3, 2011, 13:46

 

ummi…

bagaimana kalau dari sisi pemberi?

kalau sekali dua kali minta bantuan kami senang hati memberi…tapi kami merasa diperlakukan bak sapi perahan, menolak ngga tega, pada akhirnya memberi namun hati jengkel…astaghfirullah…

rena • Mar 7, 2011, 20:36

 

ijin copy…

Ummu Sarah • Mar 10, 2011, 13:05

 

Betul sekali. Hendaknya yang meminta bantuan itu tahu diri, memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan.

 

Saling memberi manfaat, bukan salah satu memanfaatkan yang lain. hentikan perbudakan terselubung antar sesama manusia

lia • Mar 10, 2011, 13:50

 

baca tulisan ni jdi ingat sodara yg punya kebiasan buruk slalu mengandalkan bantuan orang lain…ijin copy ya

bintang jatuh • Mar 10, 2011, 15:11

 

assalamu’alaikum..

 

muslimah… share donk.. bagaimana caranya menghadapi sejumlah orang yang mengatakan bahwa Istri yang menjadi full time house wife dianggap sbg benalu bagi suaminya…. karena ia tidak menghasilkan uang sendiri.

 

saya rasa, hal ini banyak dialami wanita muslimah yg mjd full time house wife..

 

jazaakunnallohu khoiron ^^

info beasiswa • Mar 15, 2011, 16:27

 

dalam tolong-menolong kita harusnya lebih mementingkan manfaat pada yang kita tolong agar pada kesempatan yang akan datang kita bisa melihat dia mandiri. seperti ungkapan pepatah memberi kail akan lebih bermanfaat dari pada memberikan ikannya.

Abu Hafshah • Mar 16, 2011, 12:41

 

izin share..

rohis smaga • Mar 18, 2011, 9:47

 

menambah ke postingan baru .. syukron🙂

Mahendra • Mar 18, 2011, 23:40

 

tulisan yg memberi nasehat berharga buat kita, izin share…

Ummu abdillah lape • Mar 24, 2011, 19:32

 

Hanya org sabar yg diberi pahala tnp batas.

Sabar mmg pahit tp buahnya sgt maNiz.

Apapun kondisinya BERSABARLAH

akhwat • Mar 25, 2011, 11:30

 

subhanalloh….

mdh2an bisa terus interospeksi diri,,

agar terhindar dari menjadi benalu

ummu harits • Mar 27, 2011, 11:58

 

@bintang jatuh:tergantung model istrinya,kalau dia tidak kerja di luar rumah dan tidak juga di dalam rumah dalam arti tidak bertanggung jawab dengan kondisi rumahnya/sudah ada pembantu yang menyelesaikan semua PR,sehari2nya hanya santai,nonton tv,tidak peduli dengan pendidikan anak,minta ini-itu barang2 konsumtif cocok kalau dibilang benalu tapi kalau dia adalah istri sholihah dan ibu yang bertanggung jawab pasti akan menjadi penenang bagi suaminya dan penyejuk pandangan mata laksana perhiasan dunianya.Bandingkan dengan istri yang bekerja di luar tanpa ada kebutuhan mendesak untuk itu,sudahlah dia pusing dengan urusan kerjanya dipusingkan juga dengan PRnya lalu bagaimana dia bisa menjadi penenang jiwa suami dan anak-anaknya?wallohu a’lam.

icih • Apr 4, 2011, 12:25

 

tolong menolong k wajiban umat yg memiliki k sadaran diri tdk hrs dminta,

icih • Apr 4, 2011, 12:27

 

izin share barokallah

ninet winona • Apr 8, 2011, 18:38

 

Subhanallah..tulisan yang dalam dan sering kita abaikan..semoga aku dan banyak muslimah lainnya bisa memperbaiki diri..jazakumullohu khoyro jaza’…

adhe • Apr 21, 2011, 8:50

 

assalamualaikum…

ijin copy jazakumullah khoiron katsiro

aurora • May 2, 2011, 11:14

 

subhanallah..🙂 izin share ya, semoga jadi pengingat bagi kita semua agar menjadi muslimah yang kuat..

Posted :

SULTANI PLN ENREKANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: